Taburan Milenial di Pilkada 2020. Rendi Solihin, Kukar dan Perolehan Terbanyak

.Oleh : Rahmad Dermawan, S, Sos, MM

Tenaga Ahli DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Samarinda,Lensaborneo.id – Ada yang menarik dalam perhelatan Pilkada serentak 2020 ini, bukan soal mahar, apalagi money politik, ini tentang peran anak muda, yang penuh gagasan, ide besar, yang menerabas stereotip lama politik.

Sebut saja Gibran Rakabuming Raka, terlepas dia anak presiden Jokowi, sosok ini memang mencuri perhatian, dengan latarbelakang bisnis sukses yang dijalankannya, Gibran maju menjadi wali kota Solo.

Ada lagi Rahayu Saraswati, menjadi kandidat wakil walikota Tangerang, Hanindito Himawan Pramana calon bupati Kediri dan banyak nama lain mewakili generasi milenial dalam pilkada 2020 ini.

Kutai Kartanegara yang memiliki wilayah 27.263,10 km² ini juga memiliki satu nama, maju sebagai wakil bupatinya, Rendi Solihin namanya, telah menjadi legislator perolehan suara terbanyak, membukukan 8.850 suara. Selain itu dia menjadi yang termuda DPRD Kukar periode 2019-2024, dan dipercaya menjadi ketua fraksi Golkar.

Sepulangnya dari pendidikannya di Monash University, Melbourne, Rendi yang mengambil jurusan bisnis dan keuangan membuka usaha dibidang pariwisata, karena itu pula dia diplot menjadi nahkoda Komisi II DPRD Kukar, yang membidang Ekonomi dan Keuangan yang meliputi sektor pariwisata, perindustrian, perdagangan dan UMKM.

Sebagai enterpreneur, Rendi sudah terbiasa mengatur strategi dan jeli dalam mengembangkan, membaca peluang dan membesarkan usahanya, inilah modal besar dia maju ke ranah politik yang diniatkan untuk memajukan dan membesarkan daerahnya sendiri, yakni Kutai Kartanegara.

Disadur dari CNN Indonesia, hasil survey mengatakan 36,15% bertanya kepada pasangan (suami/istri), 29,53 bertanya kepada sanak saudara, dan 16,15% bertanya kepada teman.

Dalam survey ini dikatakan, pemilih Milenial lebih otonom, lebih rasional dibanding yang lain dan ini artinya Milenial menjadi harapan perubahan kultur politik Indonesia menjadi lebih baik lagi

Disini kita belajar, prestasi yang ditorehkan di usia yang belum menginjak 30 tahun, bukan penghalang, karena usia bukan manifestasi dari kematangan dan kedewasaan seseorang, melainkan karya nyata yang sudah dibuat untuk masyarakat dan daerahnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *