Jelang Pilkada Samarinda, KPU Lakukan Bimtek Pemungutan Suara

Redaksi: 02

Reporter: Samuel

Lensaborneo.id – Hanya menghitung hari menjelang pelaksanaan Pilkada serentak pada 9 Desember mendatang. Karenanya, KPU Samarinda terus melakukan berbagai persiapan. Salah satunya, adalah bimbingan teknis (Bimtek) yang dilaksanakan di Hotel Selyca Samarinda pada Kamis (19/11/2020).

Dari pantaun di ruangan, tampak seluruh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se-Samarinda dan Bawaslu Samarinda menghadiri agenda tersebut.

Ditemui disela-sela kegiatan. Komisioner Divisi Perencanaan Program, Data, dan Informasi KPU Samarinda Dwi Haryono, menjelaskan bahwa kegiatan bimtek ini terkait dan pemungutan dan penghitungan suara (Tuksura) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 9 Desember 2020 mendatang.

Komisioner Divisi Perencanaan Program, Data, dan Informasi KPU Samarinda, Dwi Haryono

“Poin pada kegiatan ini adalah pengenalan sistem pembuatan TPS di Pilkada nanti yang terkait dengan standar Covid-19 dan pengenalan aplikasi Sirekap,” ungkap Dwi panggilan akrabnya

Disampaikan oleh Dwi. Pihaknya sebenarnya ingin acuan perhitungan kelak tidak menggunakan Form C1 lagi atau secara manual, melainkan dengan berkas C1-Plano yang difoto kemudian dikirimkan melalui aplikasi Sirekap (E-Rekap) untuk menyederhanakan proses rekapitulasi hasil suara.

Namun, berdasarkan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kemendagri, Komisi II DPR RI, Bawaslu RI dan KPU Pusat. Komisi II belum memberi restu. Sehingga dasar perhitungan rekapitulasi suara tetap dilaksanakan secara manual (menggunakan Form C1) untuk mengumumkan pemenang Pilkada.

“E-Rekap tetap dijalankan, tapi khusus internal KPU saja. Tujuannya untuk mempermudah laporan dan mengetahui hasil secara cepat,” jelas Dwi kepada awakmedia.

Selain itu, Dwi menjelaskan bahwa kegiatan Bimtek juga membahas hal-hal teknis. Salah satunya, prosedur penanganan TPS yang berlandaskan pada protokol kesehatan. Ia mengungkapkan bahwa ada beberapa syarat khusus yang akan ditegakkan secara ketat oleh panitia seperti pemakaian masker dan menjaga jarak ketika melakukan pencoblosan.

“Wajib hukumnya makai masker. Bahkan tempat duduk antar KKPS itu semua ada jaraknya, minimal 1 meter, kemudian mejanya tidak digabung tapi terpisah,” jelas Dwi.

Lain lagi ketika hendak masuk ke TPS. Calon pemilih yang akan memasuki area langsung diperiksa suhu badannya dan jika terdeteksi diatas 37,3 Derajat Celcius, pemilih akan langsung diarahkan ke TPS khusus yang ditempatkan di sudut ruangan.

“Jadi ada bilik khusus,” jelasnya.

Kemudian untuk tanda tinta ditangan, Dwi mengatakan bahwa pihaknya kini tidak menggunakan sistem celup, tapi menggunakan sedotan dan dituangkan langsung di jari pemilih. Sementara untuk menjaga surat suara agar tetap steril dan bersih dari Virus Covid-19, tiap pemilih akan diberikan sarung tangan ketika hendak mencoblos.

Terkait hak suara pasien positif Covid-19. Dwi menjelaskan bahwa pasien yang dirawat di RS seperti di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) diarahkan ke TPS terdekat. Namun, untuk teknis pencoblosan pasien yang melakukan isolasi mandiri, Dwi mengaku pihaknya masih menunggu arahan teknis dari KPU Pusat sebagai komando penyelenggara Pilkada.

“Biasanya nanti ada surat edaran terkait teknisnya, ini sering jadi pertanyaan tapi kita belum bisa memberikan jawaban pasti, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini ada,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *