Cerita Pilu Ayah Seorang Mahasiswa, Tidak Percaya Anaknya Dijadikan Tersangka

Redaks  i: 02

Reporter: Samuel

Samarinda, Lensaborneo.id — Dua orang Mahasiswa resmi dijadikan tersangka oleh kepolisian pada pada Kamis kemarin (5/11/2020). Inisial WJ dan FR, ditetapkan karena disebut terbukti melempar batu dan membawa senjata tajam (Sajam).

2 orang ini sebut Kombes Pol Arif Budiman, akan diproses secara hukum dan telah memenuhi unsur untuk ditahan.

“Masih ada kemungkinan adanya penambahan tersangka. Artinya, kalau melanggar hukum kami tindak tegas. Sebagian yang kami amankan ada di aksi sebelumnya,”  ucap Kombes Pol Arif Budiman pada Press Release aksi unjuk rasa yang dilaksanakan pada Jumat kemarin (6/11/2020).

Kapolresta Kota Samarinda Komisaris Besar Polisi Arif Budiman dalam Press Release yang dilakukan pada Jumat pagi (6/11/2020)

Pada hari ini  Kamis (12/11/2020). Media ini berkesempatan untuk berbincang dengan ayah FR yakni Johansyah di Polresta Samarinda.

Perjalanan jauh pria paruh baya ini dari Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel) ke Kota Tepian semata karena ingin bertemu dengan anak lelaki tertuanya itu.

Johansyah, mengaku baru mendapat kabar terkait pengamanan FR pada Selasa (10/11/2020) lalu. Ketika surat penahanan sang anak dikirimkan kerumahnya.

“Selasa siang jam 2 ada surat penahanan datang, terus waktu itu langsung saya tanyakan ke dia. Saya bilang, kamu jawab dengan jujur. Apakah itu memang perbuatannya atau tidak. Anak saya bilang dia berani bersumpah kalau senjata tajam itu bukan miliknya,” jelas Johansyah saat diwawancarai Kamis (12/11/2020) di Kantor Polresta Samarinda.

Lanjut, FR mengaku pada sang ayah bahwa ia tak membawa sajam. Kala itu, FR membantu temannya yang jatuh. Namun justru FR yang diamankan polisi.

Tangkapan layar video amatir yang menunjukkan Sajam yang diduga dibawa oleh FR

Sampai saat ini, Ia tak menyangka kejadian tersebut menimpa FR.

“Saya tahu latar belakangnya dia. Saya yakin itu bukan FR. Bahkan saya bilang, kalau memang barang itu punya dia, jawab jujur saja. Saya ikhlas. Tapi kalau barang itu bukan punya FR, dia mati sekalian tidak apa-apa. Perjuangkan kebenaran,” ungkap Johansyah meneteskan air mata.

Johansyah mengatakan bahwa FR merantau sendirian ke Samarinda hanya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Bermodalkan uang satu juta, FR jelasnya, kini berkuliah sembari bekerja.

Ia mengaku selama merantau keduanya kerap berkomunikasi dengan baik. FR bahkan disebut sangat berbakti karena rutin mengirimkan hasil kerjanya ke keluarga.

“Saya berani jamin, saya tahu betul kelakuan anak saya. Dia anak baik,

bukan saya ngomong sembarangan. Dia taat pada orangtua,” lanjutnya.

Pria berkacamata tersebut kemudian menjelaskan bahwa FR adalah anak kedua dari 5 bersaudara. Di bawah FR, ada 3 adik yang masih kecil. Sehingga keluarga menaruh harapan besar terhadap FR sebagai calon tulang punggung keluarga.

Atas kejadian ini, Johansyah tak dapat memungkiri bahwa ia dan keluarga merasa begitu terpukul.

“Saya memohon kepada pihak yang bersangkutan, agar anak saya bisa diperlakukan secara adil. Tolong bantu anak saya. Supaya bisa melanjutkan kegiatan seperti biasanya,” ucap lelaki yang berprofesi sebagai supir ini.

Hari ini, Johansyah mengaku baru pertama kali bertemu dengan pihak kepolisian. Kepada awakmedia, aparat mengizinkannya untuk bertemu dengan FR pada Sabtu mendatang.

Pada kesempatan yang sama, ia juga sempat bertemu dengan tiga legislator  DPRD Kaltim yang ikut pasang badan untuk membebaskan anaknya tersebut.

Salah satu anggota dewan yakni Baharuddin Demu. Terlihat turut menyampaikan simpatinya kepada FR.

” Kita ini lagi berupaya Pak, berdoa saja mudah-mudahan ada respon cepat dari Pak Kapolres. Kami sebagai senior mereka juga mencari jalan tengah Pak, doakan ya,” pungkas Demmu panggilan akrabnya.

3 Anggota DPRD Kaltim Baharuddin Demu, Syafruddin, dan Sutomo Jabir (dari kiri ke kanan) Bertemu dengan Ayah FR, Johansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *