Berjuang Dengan Gembira Melalui Gigs Para Pekerja

Redaksi: 02

Reporter: Samuel

Lensaborneo.id — Terkadang perjuangan tidak perlu menggunakan kekerasan, membakar ban, atau turun kejalan. Ada cara lain untuk melayangkan tuntutan, melalui cara kreatif seperti Gigs Para Pekerja yang berlangsung pada Sabtu  (21/11/2020).

Digelar di depan pintu gerbang Universitas Mulawarman, ratusan penonton terlihat datang untuk menyaksikan musisi kesayangan mereka. Berlangsung dari sore hingga malam, kurang lebih 13 musisi lokal dari berbagai aliran (Genre) mengisi perhelatan ini.

Suasana Gigs Para Pekerja menjelang malam

Dari sisi Folk/Indie, Rio Satrio serta Negeri Syam hadir melantunkan nada-nada syahdu. Kemudian, Unit musik Experimental Noise Sarana dan Emo/Skarmz Serojja menghantupkan beat-beat unggul, seolah menjadi tanda bahwa kancah musik Samarinda juga bisa “diadu” dengan daerah lain.

Rapper kondang bernama Samarendah juga terlihat melantunkan lirik-lirik menusuk mengenai kondisi kaum pekerja. Dan tidak kalah penting, kehadiran Band pertama asal Kota Tepian  yang masuk nominasi AMI Awards 2020 untuk produksi musik progresif terbaik yakni Murphy Radio.

Unit Rap/Hip-Hop dari Samarendah

“Keren banget sih, temen-temen dari berbagai skena juga hadir. Jadi semacam pemantik kalau anak muda Samarinda juga bisa memiliki bermacam karya,” ucap Yaswinda selaku Gitaris band Serojja saat diwawancarai di sela-sela acara.

Band beraliran Emo/Skramz, Serojja

Namun, tidak hanya musik. Sepanjang acara, Master of Ceremony (MC) terlihat tidak pernah berhenti untuk mengingatkan bahwa kegiatan ini membawa isu yang penting.

Orasi dan puisi penolakan UU Omnibus Law UU Cipta Kerja dan penahanan 2 Orang Mahasiswa yang mengikuti demonstrasi UU tersebut pada beberapa waktu lalu. Turut menghias kegiatan yang sudah memasuki kali kelimanya ini.

“Ingat kawan-kawan, kita sadar bahwa hari ini kita masih menghadapi masalah itu ” ucap Samcul selaku pembawa acara di tempat.

Korlap Kamisan merangkap MC, Samcul

Melihat konsepnya, euforia musik idealnya memang diimbangi dengan pemahaman isu. Sehingga dari pantauan media ini, lapak buku bacaan serta ajakan untuk bersolidaritas (selebaran) juga kelihatan bertebaran di berbagai penjuru jalan menuju panggung.

“Berjuang dengan gembira kawan-kawan, untuk FR dan WJ yang berada dibalik jeruji besi,” pungkas Samcul menutup kegiatan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *